Nyesek
“Berita terakhir dari Ketua DPD (TPPD) bahwa tidak tersedia dana untuk
uang transport saksi. Harap DPC konsolidasi. Bobar (Bogor Barat)
memerlukan Rp 16.7 jt utk kepentingan ini. Ana pribadi setelah kokoreh
di dapur dan tawakkal, bismillah menginfakkan Rp 1 jt. Ana mohon antum
semua melakukan hal serupa”.
Itulah SMS yang saya terima ba’da Shubuh, Sabtu lalu (12 April),
sehari menjelang pilgub kemarin. Saya kenal persis si pengirim SMS
itu, dan tahu betul bahwa penghasilannya per bulan mungkin sekitar Rp
2 jt. Saya juga tahu bahwa dia sekarang sedang nyicil kredit rumah.
Kesediaannya menginfakkan dana sebesar Rp 1 jt membuat mata saya
berlinang; hampir setengah dari penghasilan bulanannya. Teringatlah
kisah sahabat yang menginfakkan setengah dari hartanya. Kalaulah itu
hanya dilakukan sekali saja, mungkin tidak terlalu mengherankan.
Tetapi hanya 2 malam sebelumnya, semua grup halaqah pada semua level
dikumpulkan per DPC untuk melakukan liqo gabungan. Di sana jelas
disampaikan anjuran untuk siap berjuang melakukan jihad siyasi dalam
pilkada hari Ahad itu. Di samping kesiapan mobilisasi berjihad dengan
waktu, pemikiran dan tenaga, tentu infaq dengan maal merupakan hal
yang ditekankan dalam liqo gabungan itu. Taujih demi taujih tentang
keutamaan berjihad dengan harta, pembangkitan optimisme, dan keyakinan
bahwa kemenangan di jalan Allah itu bukan fungsi dari kebesaran harta
dan jumlah pasukan, mengiringi suasana khusyu yang menyelimuti
semangat menggeloran dalam hati setiap ikhwah yang hadir di sana.
“Berinfaqlah sampai antum jadi nyesek (sesak di dada)!”, begitu kata
seorang ustadz ketika menerangkan ayat Al Qur’an: “Tidaklah kalian
akan sampai kepada kebajikan, sampai kalian menginfakkan apa-apa yang
kalian cintai!” Yang kita cintai itulah yang kalau kita infakkan
membuat sesak di dada. “Kalau antum infaq Rp 50 ribu tetapi dada antum
masih tenang, berarti itu belum menginfakkan apa yang antum cintai.
Tambah lagi jadi Rp 100 ribu, tambah lagi dan tambah lagi, sampai
suatu saat antum merasa nyesek di dada antum. Itulah tanda bahwa antum
menginfakkan apa yang antum cintai, yang antum merasa berat untuk
melepasnya!” Bisa dibayangkan, Kamis malam sudah infaq habis-habisan.
Sabtu pagi, muncul SMS lagi seperti di atas. Sebelumnya lagi, setiap
hari Ahad selama beberapa pekan diadakan Apel Siaga yang tentu saja
ikhwah selalu diminta untuk berinfaq. Makanya, sunduquna juyubuna..
betul-betul dirasa. Kantong-kantong ikhwah betul-betul diperas habis.
Sehingga kalau diperas lagi, mungkin yang keluar adalah darah. Sabtu
itu saya membalas SMS tadi. Saya siapkan infaq dalam jumlah yang cukup
membuat dada saya sesak (ya Allah, limpahkanlah keikhlasan ke dalam
hati hamba..!). Tetapi saya yakin, rasa sesak saya itu tidaklah
sebesar rasa sesak ikhwah yang menginfakkan setengah dari
penghasilannya tadi. Dan saya bayangkan lagi, betapa banyak lagi
ikhwah yang tingkat penghasilannya lebih rendah daripada itu. Betapa
sesaknya dada-dada mereka ketika mereka merogoh kantong-kantong mereka
untuk membiayai pelaksanaan operasional segala tetek bengek yang perlu
untuk pemilihan gubernur ini. Kalau tim sukses HADE mengatakan bahwa
dana kampanye yang dikeluarkan
adalah Rp 800 juta totalnya, itu belum termasuk dana yang dikeluarkan
ikhwah di grass-root. Dana yang dikeluarkan mereka dengan ikhlas, yang
mereka tidak perlu tanda terima, tidak perlu ucapan terimakasih. Dana
yang ketika diberikan, tidak disertai harapan bahwa dana itu akan
balik kepada mereka dalam bentuk apa pun. Dana itulah yang langsung
digunakan oleh level-level struktur terbawah seperti DPD, DPC dan DPRa
yang langsung bergerak di tengah-tengah masyarakat.
Militansi Kader
Pagi ini di TV saya melihat seorang pengamat politik yang selama ini
biasanya berkomentar tidak terlalu simpati dengan PKS, mengakui bahwa
mesin politik (networking) PKS yang luar biasa yang menyebabkan
kemenangan pasangan HADE. Dan itu memang terlihat betul di lapangan.
Pilgub ini adalah pemilihan pertama yang saya alami secara langsung di
tanah air. Jadi ini adalah kali pertama juga, saya terlibat langsung
dengan segala aktivitas kader di level yang paling bawah yang terkait
dengan sebuah pemilihan. Dan apresiasi serta kekaguman pun lahir dari
diri saya. Selama 4 pekan berturut-turut, ikhwah dikumpulkan per DPC
dalam sebuah Lailatul Katibah (mabit bersama) – kalau akhwat
dikumpulkan dalam Jalasah Ruhiyah sore hari. Kekuatan ruhiyah digenjot
terus. Setelah mendapatkan siraman ruhani, sholat lail, wirid dan
dzikir bersama, selesai Lailatul Katibah ini maka ikhwah disebar ke
berbagai kelurahan untuk melakukan Direct Selling, penjualan langsung
door to door. Subhanallah. Kadang kita sering menjadikan mabit
sebagai alasan untuk bisa tidur siang lebih panjang. Tapi ini setelah
mabit, ikhwah langsung menyebar, mengetuk pintu-pintu masyarakat.
Memperkenalkan diri dengan santun, memberikan sosialisasi tentang
pilkada ini (well, ini mah seharusnya tugas KPUD), dan baru minta ijin
dengan baik-baik untuk
mengenalkan calon gubernur dan wakilnya kepada masyarakat. Ini
dilakukan pada 4 Ahad berturut-turut, mabit malamnya dan terus
menyebar ber-direct selling pada pagi harinya. Ini tentunya di luar
kegiatan rutin yang biasa dilakukan kader langsung di tengah
masyarakat seperti bakti sosial, pelayanan kesehatan, bazar sembako
murah, dsb. Keikhlasan yang luar biasa. Tidak ada di benak para kader
ini bahwa ketika HADE menang, mereka akan diangkat menjadi tim tenaga
ahli atau akan mendapatkan tempat khusus di lingkaran dekat kekuasaan.
Jabatan tangan saja dari gubernur terpilih, mereka tidak akan
dapatkan. Mereka berjuang ikhlas karena yakin bahwa kebaikan pada
masyarakat akan tersebar dengan menangnya calon yang mereka usung.
Perjuangan kader tidak terhenti sampai di sana. Selama seminggu
terakhir, diadakan ronda malam bergiliran. Tujuannya sederhana:
menjaga agar atribut kampanye (stiker, spanduk, baliho) yang kita
pasang, tidak dirusak oleh pihak-pihak lain. Buat sebagian kita,
melihat stiker tertempel di tiang listrik tetapi kondisinya tersobek,
mungkin biasa-biasa saja. Tetapi bisa kita bayangkan, betapa pedihnya
hati
ikhwah yang menempelkan stiker itu melihat hasil tempelannya itu
dirusak orang lain. Karena itu, semua atribut harus dijaga, dan ikhwah
rela mengorbankan tidur malamnya untuk itu. Kemudian di malam
terakhir, ronda malam juga diintensifkan dengan tujuan mengawasi
jangan sampai terjadi pembagian sembako atau amplop kepada masyarakat
di jam-jam terakhir menjelang pemilihan. Bisa diyakinkan, para
kepanduan kita akan berjaga dan siap meluncur apabila ada pelaporan
hal-hal seperti itu terjadi. Perjuangan para akhwat juga luar biasa.
Di Direct Selling, mereka yang paling semangat. Waktu kampanye, mereka
juga melaksanakan aksi kampanye
simpatik. Berdiri di perempatan-perempat an jalan, membagikan
bunga-bunga yang mereka rangkai sendiri dan menyapa setiap pengendara
kendaraan. Di hari pelaksanaan, mereka bergantian menyediakan konsumsi
untuk para saksi, meskipun tidak sedikit yang juga bertindak sebagai
saksi. Melihat keikhlasan dan militansi kader dalam berjuang dan
berinfaq seperti di atas, mulut ini sempat bergumam: “Seandainya
mereka yang terpilih menjadi anggota legislatif atau duduk di jabatan
eksekutif, kemudian melupakan para kader, menjadi jauh dengan para
kader, tidak memiliki empati dan sensifitas terhadap kebutuhan kader,
malah menjadi kaya dengan memanfaatkan jabatannya, maka sungguh itu
adalah sebuah KEDZHALIMAN yang SANGAT BESAR!”
Lega
Saya memilih di kompleks perumahan tempat saya tinggal. Warganya tentu
relatif terpelajar dengan kondisi ekonomi yang juga relatif lebih
stabil dibanding masyarakat kebanyakan. Ditambah dengan aktifitas
ke-Islaman yang baik, tidak ada kekhawatiran akan terjadi kecurangan
dalam proses pelaksanaan pemilihan kemarin. Yang ada adalah memang
rasa optimisme bahwa HADE akan menang di kompleks itu. Tidak hanya di
kompleks perumahan tempat saya tinggal, ikhwah di Kota Bogor tidak
tanggung-tanggung memasang target perolehan suara 51% untu HADE. Di
samping kontribusi untuk pilgub, ini juga sebagai batu loncatan untuk
pemilihan walikota di bulan Oktober mendatang. Jeblok di pilgub,
jangan harap akan bisa bangkit untuk pemilihan walikota, karena jeda
waktu yang kurang dari 6 bulan. Ketika perolehan suara dihitung satu
per satu di TPS tempat saya memilih, pasangan HADE langsung melejit
memperoleh suara terbanyak. Sekitar 60%. TPS-TPS lain di kelurahan
saya juga menunjukkan hal yang sama. Muncullah rasa lega menggantikan
rasa sesak yang mungkin masih terasa sampai malam sebelumnya. Lega
karena perjuangan berat dan luar biasa para kader, ternyata Allah SWT
balas langsung di dunia ini juga (tanpa melupakan harapan kita akan
balasan yang lebih baik di akhirat tentunya). Apalagi ketika pulang ke
rumah usai menyaksikan perhitungan suara di TPS, tayangan TV
menyiarkan hasil quick-count pilgub itu. Semua lembaga menyebutkan
bahwa HADE unggul!
“Allahu Akbar Walillahilhamd! ” Itu adalah bunyi SMS dari kader yang
kemarin mengatakan akan berinfaq Rp 1 juta itu. Perhitungan suara
terus dilakukan. Tersebar SMS dari Ketua DPD bahwa di Kota Bogor, HADE
berhasil mengumpulkan suara sebesar 52% dari hasil perhitungan semua
jumlah suara yang sah. “Allahu Akbar Walillahilhamd! “
Perasaan lega dan kekaguman terhadap perjuangan kader ternyata tidak
berhenti. Muncul SMS berupa instruksi: “Wajib bagi para kader untuk
mengawal kotak-kotak suara dari TPS ke PPS ke PPK”. Kegiatan ronda
malam tetap dijalankan, tetapi sekarang bergiliran di PPK (Panita
Pemilihan tingkat Kecamatan) untuk menjaga kotak-kotak suara jangan
sampai ada yang mengganggu. Jadwal pun dibuat. Setiap grup halaqah
wajib mengirimkan 1 wakilnya pada jadwal yang sudah disepakati. “Kita
akan terus mengawal perolehan suara kita!”.
Ngeri
Setelah suasana kelegaan dan euforia, dalam perenungan kemudian muncul
perasaan ngeri. Ngeri kalau kita tidak bisa mengemban amanah
kepemimpinan ini. Ngeri kalau janji-janji tidak bisa direalisasikan.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena berbagai hambatan praktis di
sistem birokrasi kita. Pertanyaan-pertanya an sudah mulai mengarah.
Bagaimana PKS dan PAN bisa melakukan komunikasi politik dengan DPRD
yang dikuasasi 3 raksasa: Golkar, PDIP dan PPP, sehingga
program-programnya tidak dijegal dan bisa jalan? Bagaimana kalangan
birokrasi di Pemda Provinsi bisa diarahkan semuanya ke satu tujuan
yang sama? Ibarat tubuh manusia, yang baru kita menangkan adalah
kepalanya. Sedangkan kaki, tangan dan anggota tubuh lainnya? Sebuah
pertanyaan yang besar. Para kader PKS berjuang, memeras keringat dan
kantong dana, karena mereka yakin bahwa dengan memiliki amanah
kepemimpinan, akan lebih banyak lagi kebaikan yang bisa ditebarkan
kepada masyarakat. Semoga
keyakinan dan harapan itu memang bisa terwujud.
Bogor, 14 April 2008
Sehari setelah Pilgub
Mei 9, 2008 at 12:12 pm
Perjuangan yang besar dan penuh keikhlasan, pasti akan memperoleh kemudahan dari sisi-Nya
Maret 30, 2009 at 12:55 pm
tentang nilai lebih kader PKS di mata kader PDI Perjuangan lihat di sini:
http://kalipaksi.wordpress.com/2009/03/30/kisah-kurcaca-moncong-putih-dan-kurcaci-pks/
April 23, 2009 at 9:14 am
wah kayaknya bener tebakan kang Naryo nih, ente Kader PKS… afwan nih, akh untuk tulisan semisal “Sebuah Tradisi yang Merusak Generasi muda Islam” di perhalus, biar saudara kita yang tidak sependapat tidak terlalu tersinggung dan dawah antum kesampeyan serta dawah antum beda sama saudara antum yang suka nyalahin dan bid’ahin orang…. sukses selalu akh.
April 24, 2009 at 11:30 am
@ Ahmad
“maturnuwun sanget”
kalau punya usul judul silakan ane kehabisan ide