Tafsir ibnu Katsir Surat Al Mujadilah, ayat 14-19

Al-Mujadilah, ayat 14-19

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (15) اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (16) لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (17) يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ (18) اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (19) }

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang-orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu, dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.

Allah Swt. berfirman, mengingkari orang-orang munafik karena mereka membantu orang-orang kafir dalam batinnya, padahal dalam waktu yang sama mereka tidak bersama;sama dengan orang-orang kafir, juga tidak bersama-sama dengan kaum mukmin. Sebagaimana yang diterangkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلاءِ وَلا إِلَى هَؤُلاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلا}

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (An-Nisa: 143)

Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ}

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? (Al-Mujadilah: 14)

Yakni orang-orang Yahudi yang munafik bersekongkol dan memihak kepada mereka dalam batinnya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

{مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلا مِنْهُمْ}

Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. (Al-Mujadilah: 14)

Artinya, orang-orang munafik itu pada hakikatnya bukan dari kalangan kamu, hai orang-orang mukmin; bukan pula dari kalangan orang-orang yang di pihak oleh mereka, yakni orang-orang Yahudi. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ}

Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui. (Al-Mujadilah: 14)

Orang-orang munafik itu bersumpah dengan dusta, sedangkan mereka mengetahui bahwa sumpah yang mereka lakukan itu dusta belaka, yang dikenal dengan yaminul gamus. Hal ini merupakan kebiasaan mereka yang terkutuk, na’uzu billah. Karena sesungguhnya apabila bersua dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami beriman.” Dan apabila datang kepada Rasul, mereka bersumpah kepadanya dengan nama Allah bahwa diri mereka beriman. Padahal mereka mengetahui dalam dirinya bahwa sumpah yang mereka lakukan itu hanyalah dusta belaka, karena mereka tidak meyakini kebenaran dari apa yang mereka katakan, sekalipun secara lahiriahnya dibenarkan. Karena itulah maka Allah menyaksikan kedustaan sumpah dan persaksian mereka terhadap hal tersebut.

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Mujadilah: 15)

Yakni sebagai balasan dari perbuatan mereka itu, Allah telah menyiapkan azab yang pedih karena mereka berpihak kepada orang-orang kafir, menolong mereka, dan memusuhi serta menipu orang-orang mukmin. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

{اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ}

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah. (Al-Mujadilah: 16)

Yaitu mereka melahirkan keimanan, padahal di dalam batin mereka memendam kekufuran. Mereka menutupi keadaan mereka yang sebenarnya dengan sumpah-sumpah dusta, sehingga kebanyakan orang yang tidak mengetahui keadaan mereka mengira bahwa mereka benar. Akhirnya teperdayalah ia, dan dengan demikain maka berhasillah cara mereka dalam menghalangi sebagian manusia dari jalan Allah.

{فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ}

karena itu. mereka mendapat azab yang menghinakan. (Al-Mujadilah: 16)

Yakni sebagai balasan dari penghinaan mereka kepada Allah karena mereka menyebut-Nya dalam sumpah-sumpah dusta mereka.

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا}

Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. (Al-Mujadilah: 17)

Maksudnya, hal tersebut yang mereka miliki sama sekali tidak dapat menolak azab dan pembalasan Allah dari mereka apabila pembalasan itu datang menimpa diri mereka.

{أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al-Mujadilah: 17)

Dalam firman selanjutnya disebutkan:

{يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا}

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah. (Al-Mujadilah: 18)

Yakni Allah menghimpunkan mereka semuanya di hari kiamat tanpa ada seorang pun yang tertinggal.

{فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ}

lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). (Al-Mujadilah: 18)

Mereka bersumpah kepada Allah Swt. bahwasanya diri mereka benar berada pada jalan petunjuk dan istiqamah, sebagaimana sumpah mereka kepada manusia ketika di dunia. Karena sesungguhnya barang siapa yang hidup dengan berpegangan pada sesuatu, maka matinya pun ia berpegang pada sesuatu itu; begitu pula saat ia dibangkitkan. Mereka mengira bahwa hal tersebut dapat memberi manfaat bagi mereka di sisi Allah, sebagaimana dapat memberi manfaat bagi mereka di mata manusia. Mereka hanya berpegang kepada hal-hal yang lahiriah. Karena itulah dafam firman berikutnya disebutkan:

{وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَى شَيْءٍ}

dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). (Al-Mujadilah: 18)

Yakni sumpah mereka yang demikian itu kepada Tuhan mereka dapat memberi suatu manfaat bagi diri mereka. Maka dalam firman berikutnya dugaan mereka itu dibantah oleh firman-Nya:

{أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ}

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (Al-Mujadilah: 18)

Kalimat berita ini menguatkan bahwa mereka benar-benar dusta dalam sumpahnya itu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Nafil, telah menceritakan kepada kami Zuhair, dari Sammak ibnu Harb, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Jubair, bahwa Ibnu Abbas pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi Saw. ketika berada di bawah naungan salah satu dari rumahnya, yang saat itu di hadapan beliau Saw. terdapat beberapa orang muslim, sedangkan bayangan rumah telah surut dari mereka, maka Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya akan datang kepada kamu seorang manusia yang melihat dengan kedua mata setan. Maka apabila dia datang kepadamu, janganlah kamu berbicara dengannya. Tidak lama kemudian datanglah seorang lelaki yang bermata biru, lalu Rasulullah Saw. memanggilnya dan mengajaknya bicara seraya bertanya, “Mengapa kamu mencaci aku dan juga si Fulan dan si Fulan,” dengan menyebut nama beberapa orang lainnya. Lalu lelaki itu pergi dan memanggil mereka yang disebutkan namanya oleh Nabi Saw., kemudian mereka datang dan bersumpah kepada Nabi Saw. serta meminta maaf kepadanya. Lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (Al-Mujadilah: 18)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui dua jalur dari Sammak dengan sanad yang sama.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Muhammad ibnul Musanna, dari Gundar, dari Syu’bah, dari Sammak dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Ibnu Jarir telah mengetengahkannya pula melalui hadis Sufyan As-Sauri, dari Sammak dengan lafaz yang semisal, sanadnya jayyid, tetapi mereka (Ahlus Sunan) tidak ada yang mengetengahkannya.

Keadaan mereka sama dengan apa yang diceritakan oleh Allah Swt. mengenai perihal orang-orang musyrik melalui firman-Nya:

{ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ}

Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (Al-An’am: 23-24)

*******************

Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:

{اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ}

Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Al-Mujadilah: 19)

Yakni hati mereka telah dikuasai oleh setan hingga setan membuat mereka lupa daratan dari mengingat Allah Swt., dan memang demikianlah yang dilakukan oleh setan terhadap orang yang telah dikuasainya. Karena itulah Imam Abu Daud mengatakan:

حدثنا أحمد ابن يُونُسَ، حَدَّثَنَا زَائِدَةُ، حَدَّثَنَا السَّائِبُ بْنُ حُبَيش، عَنْ مَعْدان بْنِ أَبِي طَلْحَةَ اليَعْمُري، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْو، لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ”.

telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Zaidah, telah menceritakan kepada kami As-Sa-ib ibnu Hubaisy, dari Ma’dan ibnu AbuTalhah Al-Ya’muri, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tidak ada tiga orang dalam suatu kampung dan tidak pula dalam suatu daerah pedalaman bila tidak ditegakkan salat di kalangan mereka, melainkan setan telah menguasai diri mereka. Maka berpegang teguhlah kepada jamaah, karena sesungguhnya serigala iiu hanya memangsa kambing yang jauh (menyendiri).

Zaidah mengatakan bahwa As-Sa-ib menafsirkan kata jamaah di sini dengan pengertian salat berjamaah.

Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:

{أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ}

mereka itulah golongan setan. (Al-Mujadilah: 19)

Yaitu orang-orang yang telah dikuasai oleh setan hingga setan membuat mereka lupa mengingat Allah Swt. Lalu dalam firman selanjutnya disebutkan:

{أَلا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ}

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (Al-Mujadilah: 19)

Dipublikasi di Islam, Politik | Meninggalkan komentar

Hasil UAS Semester 1 2016/2017

Assalamu alaikum. wr. wb.

Berikut ini nilai bahasa Indonesia Kelas 7 dan Kelas 9.

kelas 7  

kelas 9 

Bagi anak-anak yang nilainya masih di bawah KKM (75), silahkan segera menghubungi ustadz untuk mengikuti remidial.

Terima Kasih

Dipublikasi di arsip sekolah | Meninggalkan komentar

Soal Latihan UAS Bahasa Indonesia Kelas IX

Anak-anak mohon dikerjakan dengan serius dan cantumkan nama masing-masing.

Hasil pekerjaan akan ustad pertimbangkan untuk menambahi nilai UAS bila nilai UAS di bawah KKM.

silahkan klik di sini

https://goo.gl/forms/m3jfr9OiUWux3Qv23

hasil per tanggal 1 Desember bisa dilihat pada tautan berikut ini.

Dipublikasi di Umum | Meninggalkan komentar

Soal latihan UAS bahasa Indonesia kelas VII

Anak-anak mohon dikerjakan dengan serius dan tolong cantumkan nama masing-masing.

Hasil pekerjaan akan ustad pertimbangkan untuk menambahi nilai UAS bila nilai UAS di bawah KKM.

Silahkan klik di sini

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSf6Vwhi1XRDy4UYzK4dfMKqN7E2i2IBQJ-v53CgpuYOdDxiyA/viewform

hasil per tanggal 1 Desember bisa dilihat pada tautan berikut ini.

Dipublikasi di Umum | Meninggalkan komentar

Makna “auliya” dalam surat al Maidah 51

oleh ust Ahmad Mudzoffar Jufri

Kata “auliya'” (أولياء) seperti yang ada di dalam QS. Al-Maidah: 51 dan lain-lain itu, merupakan bentuk jama’/plural dari kata “wali” (ولي) yang berasal dari kata wala’ (ولاء). Sementara kata wala’ (ولاء) itu berarti: cinta/kasih/sayang, loyalitas, kesetiaan, kedekatan, keberpihakan, dukungan, pertolongan, perlindungan dan semacamnya.
Sehingga menjadikan seseorang sebagai “wali” atau beberapa orang sebagai “auliya'”, berarti memberikan kepadanya atau kepada mereka: cinta/kasih/sayang, loyalitas, kesetiaan, kedekatan, keberpihakan, dukungan, pertolongan, perlindungan dan semacamnya.
Nah jika telah mengetahui makna-makna tersebut, maka akan sangat mudahlah bagi kita mengapa terjadi keragaman dalam mengartikan atau menerjemahkan kata “wali” atau “auliya'”. Sehingga kadang diartikan/diterjemahkan dengan: kekasih, teman dekat, sahabat setia, loyalis, pendukung, penolong, pelindung, dan lain-lain yang semakna dengan itu semua.
Jadi pengertian-pengertian dan terjemahan-terjemahan tersebut, meskipun tampak berbeda-beda, semuanya benar, tidak ada yang salah. Karena sifatnya memang perbedaan keragaman (اختلاف تنوع) yang justru saling melengkapi, bukan perbedaan pertentangan (اختلاف تضاد). Tinggal konteks yang akan menentukan pengertian/terjemahan mana yang lebih cocok dan relevan.
Selanjutnya, dengan kandungan pengertian-pengertian seperti itu, tentu sangat logis dan termaklumi sekali jika ikatan wala’ (loyalitas) umumnya hanya terjalin diantara orang-orang yang memiliki kesamaan saja khususnya dalam konteks ideologi, akidah dan agama. Sehingga orang-orang beriman (Islam) satu sama lain saling ber-wala’ diantara mereka saja. Dan orang-orang kafirpun demikian, saling memberikan wala’ hanya antar mereka pula.
“Dan orang-orang kafir itu, sebagian dari mereka saling ber-wala’ dengan sebagian yang lain saja. Jika kalian semua (orang-orang beriman) tidak melakukan hal yang sama (saling ber-wala’ satu sama lain), niscaya akan terjadi finah di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al-Anfaal: 73).

“Dan orang-orang beriman itu, baik laki-laki maupun perempuan, sebagian dari mereka harus saling memberikan wala’ kepada sebagian yang lain” (QS. At-Taubah: 71).

Bahkan sikap saling ber-wala’ antar sesama ummat Islam merupakan kewajiban syar’i yang sangat mendasar sekali di dalam ajaran Islam. Karena ia (wala’) memang merupakan konsekuensi langsung dari akidah dan keimanan. Makanya kita mengenal pasangan istilah wala’ dan bara’ (الولاء والبراء), yang menunjuk pada dua sikap saling berlawanan (loyalitas dan anti loyalitas) yang wajib dimiliki oleh setiap muslim/muslimah sebagai konsekuensi idelogis dari keimanannya.

Dipublikasi di Islam, Politik, Umum | Meninggalkan komentar

4 Kompetensi yang Wajib Dikuasai Guru

4 Kompetensi yang Wajib Dikuasai Guru

Untuk menciptakan peserta didik yang berkualitas, guru harus menguasai 4 kompetensi. Keempat kompetensi yang harus dikuasai guru untuk meningkatkan kualitasnya tersebut adalah kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Guru harus sungguh-sungguh dan baik dalam menguasai 4 kompetensi tersebut agar tujuan pendidikan bisa tercapai.

1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi yang merupakan kompetensi khas, yang membedakan guru dengan profesi lainnya ini terdiri dari 7 aspek kemampuan, yaitu:
1. Mengenal karakteristik anak didik
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
3. Mampu mengembangan kurikulum
4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik
5. Memahami dan mengembangkan potensi peserta didik
6. Komunikasi dengan peserta didik
7. Penilaian dan evaluasi pembelajaran

2. Kompetensi Profesional.
Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan guru dalam mengikuti perkembangan ilmu terkini karena perkembangan ilmu selalu dinamis. Kompetensi profesional yang harus terus dikembangkan guru dengan belajar dan tindakan reflektif. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi:
a. Konsep, struktur, metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar
b. Materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
c. Hubungan konsep antar pelajaran terkait
d. Penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
e. Kompetensi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional

3. Kompetensi  Sosial
Kompetensi sosial bisa dilihat apakah seorang guru bisa bermasyarakat dan bekerja sama dengan peserta didik serta guru-guru lainnya. Kompetensi sosial yang harus dikuasai guru meliputi:
a. Berkomunikasi lisan dan tulisan
b. Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
c. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik
d. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar
e. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
f. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
g. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

4. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi ini terkait dengan guru sebagai teladan, beberapa aspek kompetensi ini misalnya:
Dewasa
Stabil
Arif dan bijaksana
Berwibawa
Mantap
Berakhlak mulia
Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
Mengevaluasi kinerja sendiri
Mengembangkan diri secara berkelanjutan

Keempat kriteria tersebut biasanya didapat dan dikembangkan ketika menjadi calon guru dengan menempuh pendidikan di perguruan tinggi khususnya jurusan kependidikan. Perlu adanya kesadaran dan keseriusan dari guru untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensinya. Karena kian hari tantangan dan perubahan zaman membuat proses pendidikan juga harus berubah.

Dipublikasi di Keguruan, Umum | Meninggalkan komentar

aplikasi angaran

https://drive.google.com/open?id=0ByS5Uw2mQ7DMT0kxZFZUQzRUYms

Dipublikasi di Komputer | 4 Komentar