Kesalahan Berbahasa

Sadarkah bahwa kita sering melakukan kesalahan berbahasa. Berikut ini kalimat-kalimat yang salah secara logika.

“Hallo, Anton-nya ada?” (pembicaraan dalam telepon)

“Maaf mas, namanya siapa ya? (orang pertama bertanya nama orang kedua)

“Yang mengerjakan Ikhwan-nya saja”

Coba bedakan dengan kalimat-kalimat di bawah ini:

Tanah ini adalah tanahnya Pak Cakra.

Supra di depan rumah itu motornya Amir.

Coba Anda pikirkan kalimat yang keliru secara logika di atas dan bagaimana seharusnya kalimat itu. Akan saya beri jawaban pada posting berikutnya.

Tentang Nail

Seorang Guru Bahasa Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Bahasa. Tandai permalink.

8 Balasan ke Kesalahan Berbahasa

  1. Oh ya ada lagi.

    Indonesia berusaha mengejar ketertinggalannya dari Malaysia.

    Masa ketertinggalan dikejar?
    😀

    Nailul: lho, saya tidak sedang membahas Malaysia.

  2. anas berkata:

    kalau ngomong keseharian musti pake’ bahasa yang baku seperti itu justru seasana akan menjdi kaku dan tidak komunikatif donk😀

    *eh, komentar saya juga banyak kata yang salah ya😆:mrgreen: *

    Nailul: Ngga semua bahasa baku itu kaku. Aku juga pake bahasa santai. Kalo bahasa yang baku itu tetep terasa santai apa salahnya pake yang baku? kriteria baku itu ada beberapa hal, salah satunya kelogisan. Yang saya bahas di atas adalah kebakuan dalam hal logika bukan struktur sintaktik atau yang lain. Kebakuan dalam hal logika saya pikir tetep santai kok. Kalo pake yang baku tetep terasa santai kenapa tetep pakai yang ngga baku?

  3. Maksud saya kalimat yang benar adalah:

    Indonesia berusaha *mengatasi* ketertinggalannya dari Malaysia.
    😀

    Nailul: maksudmu hubungan antara “mengatasi ketertinggalan dari malaysia” dengan pemakaian “nya” dalam kalimat itu apa? ko maksa

  4. Andi berkata:

    Itu hanya gaya bahasa yang terpengaruh bahasa Inggris. Walaupun begitu, bisa juga kalimat itu ditulis tanpa akhiran -nya.

    Indonesia berusaha *mengatasi* ketertinggalan dari Malaysia.

    Penggunaan akhiran -nya memang kadang-kadang rancu, tapi tidak selalu berarti tidak tepat.

    Sebab, bahasa bukan melulu struktur, tapi keindahan suara.

    Nailul: bukan pengaruh dari bahasa inggris tapi jawa.
    “Hallo, Anton-nya ada”? (ind)
    “Hallo, Anton-e ono?” (jawa)
    akhiran “-nya” adalah akhiran sebagai kata ganti orang ketiga (yang dibicarakan). Ketika “-nya” dipakai untuk menyebut orang kedua (yang diajak bicara) kalimat menjadi rancu dan tidak enak didengar.
    Kalo bahasanya tidak logis dimana indahnya?

  5. Yang anda contohkan itu memang pengaruh bahasa Jawa, dan memang tidak enak didengar. Saya setuju.

    Yang saya maksud pengaruh dari bahasa Inggris adalah contoh kalimat saya.

    Contoh analog:

    “The small size of Timor Leste and *its* military backwardness could have contributed to a successful international military mission and *its* proud security engagement.”

    Mungkin puisi bisa jadi contoh pelanggaran struktur bahasa yang indah.

  6. Ibnu Ahmad berkata:

    Oh.. Andi itu Junarto ya?

  7. anas berkata:

    @nailul:
    ow, gitu ya, kalo giti sih setuju aja😀

  8. Oetary berkata:

    ya memang begitulah warga kita, pengen cari enaknya saja kalau ngomong, gak peduli salah benarnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s