Berkurban: Bercermin pada Bapak Para Nabi

Nabi Ibrahim adalah Nabi Kesayangan Allah swt. dalam Surat An Nisa: 125 Allah berfirman:
“dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”
Nah, bagaimana seorang Ibrahim bisa menjadi kesayangan Allah? Mungkin uraian di bawah inilah salah satu penyebabnya.

Beberapa ribu tahun yang lalu ada seorang hamba Allah yang telah mendambakan datangnya si buah hati selama bepuluh-puluh tahun, siang dan malam ia panjatkan doa kepada Robbnya agar ia segera dikaruniai keturunan.
Akhirnya do’anya terkabul melalui Isteri keduanya, Hajar yang dinikahi atas kehendak Sarah (isteri pertama Ibrahim).
Maka terpenuhilah apa yang diharapkannya selama ini, terkabulah do’a yang dipanjatkannya selama ini, Ibrahim sangat menyayangi Isma’il, anak yang telah didambakannya selama bepuluh-puluh tahun itu.

Namun, pada saat yang demikian inilah Allah menurunkan ketentuannya, menguji keimanan ibrahim. Firman Allah:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash Shoffat:102)

Pernahkah antum membayangkan sesuatu yang antum damba-dambakan sejak lama dan antum sangat mencintainya diminta oleh Allah swt? Lalu seandainya iya apakah antum akan memberikannya?

Ibrahim sebagai suri tauladan yang baik, contoh model seorang mukmin, melaksanakan perintah Allah tersebut. Walau betapapun besar cintanya kepada Isma’il, ia tetap menjalankan perintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Kisah inilah yang menjadi latar belakang sejarah ibadah kurban, kita hendaknya senantiasa mengingat esensi kurban sebagai mana sejarahnya. Karena itu, Berkurban merupakan sebuah kerelaan mempersembahkan yang paling berharga dan paling dicintai sekalipun untuk Allah.

Sudahkah kita mempersembahkan kepada Allah yang paling kita cintai?
Atau siapakah yang lebih kita cintai Allah atau sesuatu yang paling kita cintai di dunia itu?
Bahkan ada seseorang yang menulis dalam sebuah buletin dengan bahasa: menyembelih Tuhan-Tuhan selain Allah.

Tentang Nail

Seorang Guru Bahasa Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

3 Balasan ke Berkurban: Bercermin pada Bapak Para Nabi

  1. tantan berkata:

    Kisah nabi Ibrahim tersebut benar2 merupakan suri tauladan wujud ketakwaan sepanjang masa… Cinta sepenuhnya dan cinta sejati hanya pd Allah. Subhanallah…

  2. vito berkata:

    aku sich dalam memahami ibadah Qurban sebagai aplikasi dari pembuangan rasa memiliki dan rasa keakuan yang selalu kita pertahankan.Pada hakikatnya semua yang kita akui milik kita adalah milik Allah,nah inti dari qurban yaitu mendekatkan semua keakuan tsb ke Allah.anak yang kita cintai kita dekatkan ke Allah,harta ,istri diri kita atau apa sajalah yang selalu kita akui milik kta dan kita cintai kita dekatkan ke Allah.

  3. bayu imantoro berkata:

    Kecintaan berlebihan pada partai politik juga berpotensi mendatangkan ilah baru dalam diri seseorang, bahkan jamaah.

    karena itu kecintaan pada partai politik harus dilandasi semangat mengorbankan niat-niat buruk pribadi untuk kemudian tulus ikhlas berjuang semata mengharap ridho Allah.
    Jgn sampai buta mata, apalagi buta hati –naudzubillahiminzalik– ketika kita melihat kesalahan dalam tubuh partai harus kita tegur dan perbaiki.

    Suara-suara iblis, kuffar dan munafiq yang mengajak menjadi partai terbuka, menerima pluralisme, bahkan terang-terangan menanggalkan keislaman dan ikut-ikutan mengatakan burung garuda dan undang-undang dasar buatan manusia sudah final adalah godaan-godaan yang harus dibuang jauh-jauh partai islam. Alquran dan Assunnah lah yang seharusnya jadi pedoman.

    Cukuplah Allah sebagai penolong.

    Jangan sampai ketakutan-ketakutan pada manusia kuffar dan sekuler menjadikan kita justru berani mengatakan “tidak” pada syariat Allah ta’ala. Naudzubillahiminzalik.
    Jgn sampai kita lebih takut pada manusia daripada takut pada siksa Allah.

    Wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s