Manakala Cinta datang Menyapa Futur

Setiap insan beriman tidak luput dari cobaan yang mungkin dapat membuatnya futur. Setiap mukmin sudah pasti mendapatkan cobaan agar Allah mengetahui sejauh mana kedalaman iman yang tertancap di dadanya sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al Ankabut.

Setiap kita tentu pernah merasakan masa-masa sulit yang mendorong kita untuk futur. Dan yang pasti menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana agar kefuturan itu tidak menjangkiti kita, bagaimana agar kita kebal dari kefuturan tersebut, bagaimana agar kefuturan itu sendiri futur dari usaha untuk menjatuhkan kadar keimanan kita.

Diceritakan Allah dalam surat Al Baqoroh 214, bahwa orang-orang terdahulu sebelum kita, yaitu orang-orang yang beriman bersama Rasulullah saw diberi cobaan dengan ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan hatinya dengan berbagai macam cobaan hingga dari bibir mereka yang futur terucap kata:
مَتَى نَصْرُ اللّهِ
(kapan pertolongan Allah itu datang)
Kemudian dengan penuh cinta Allah mengingatkan mereka melalui Rasulullah dengan ucapan yang menenangkan hati mereka, dengan ucapan yang mengisi ulang keimanan dalam hati mereka yang meradang:
أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
(Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ ﴿٢١٤﴾
(Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.)

Ingatlah juga ketika Umar bin Khatab mengalami kefuturan ketika Rasulullah saw. tutup usia. Kecintaanya yang dalam kepada Rasulullah membuat kepergian Rasulullah menjadi cobaan yang sangat berat baginya. Sampai-sampai ia mengingkari kematian Rasulullah, mengingkari bahwa seorang rasul bukanlah tuhan melainkan juga manusia yang pasti memiliki batas usia. Dengan mengacung-acungkan pedangnya beliau berkata: barangsiapa berkata Muhammad telah mati, akan aku penggal lehernya. Kemudian dengan penuh kasih sayang Abu Bakar menegur sahabat seimannya tersebut dengan membacakan firman Allah dalam surat Ali Imran 144,
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ ﴿١٤٤﴾
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
Mendengar ayat tersebut Umar menjadi tenang, seolah-olah baru kali ini ia mendengar ayat tersebut. Dengan penuh cinta, Abu Bakar mengingatkan saudaranya tersebut, apakah dengan meninggalnya Rasulullah kau menjadi futur? Ketahuilah barangsiapa mempertuhankan Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati dan barangsiapa mempertuhankan Allah, sesungguhnya Allah kekal dan tak akan mati, yang menghidupkan dan yang mematikan.

Demikianlah beberapa cuplik kisah orang-orang (yang hampir) futur namun diselamatkan dengan cinta.

Nah, bagaimana dengan kita?
Apa yang harus kita lakukan agar cinta itu datang di kala futur, sehingga menyelamatkan kita dari kefuturan tersebut.

Salah satunya adalah kita harus berusaha untuk menjadi seorang pribadi yang seperti Abu Bakar. Pribadi yang kokoh iman, pribadi yang ayat-ayat al Quran selalu segar bersemayam dalam hatinya dan menerangi akal pikirannya. Sehingga dengan hal itu ayat-ayat cinta Allah selalu menemani kita di masa-masa sulit.

Lalu apalagi yang membuat antum menunda untuk bertilawah Al Qur’an dan menghafalkannya?

Tentang Nail

Seorang Guru Bahasa Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s