Hasil kerja dakwah di Indonesia


Bagi yang membaca Jawa Pos hari kamis 17 April
2008 akan melihat proses rencana (baca:
ta’arufpernikahan ustad Hidayat dg ustzh Diana.

Saya melihat,ini adalah salah satu berkah yang muncul
dari rencana pernikahan beliau. Ini adalah materi
dakwah (fikih nikah) pada sub ta’aruf yang dikemas
menjadi sebuah berita di mass media.

Subhanallah. ..
Mungkin ini profil orang yang sudah menjual diri dan
hartanya untuk dakwah di jalan Allah. Aktivitas yang
biasanya terkesan “biasa” (rencana pernikahan) saja
sudah bernilai dakwah.

Bagaimana dengan kita?
Hal nahnu qoumun ‘amaliyuun?

Setelah film Ayat-ayat Cinta sempat booming dan laris manis
dengan menampilkan ta’aruf secara islami pada salah satu adeganya
kemudian diikuti oleh pemberitaan ta’atur Ustadz Hidayat
menunjukkan bahwa nilai-nilai islam semakin tersosialisasi dengan baik.

Jawa pos

Kamis, 17 Apr 2008,
Ta’aruf dengan dr Diana Abbas Thalib, Calon Istri
Ketua MPR

Sebelum Lamaran, Tukar Foto lewat Murobbi
Nama Diana Abbas Thalib mendadak terkenal setelah
dilamar Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Hari pernikahan
pun sudah ditentukan bulan depan. Bagaimana sebenarnya
proses perkenalan duda dan janda itu? Siapa sosok
Diana?

RIDLWAN-PRIYO, Jakarta

Jika tak ada aral melintang, Ketua MPR Hidayat
Nurwahid tiga pekan lagi mengucapkan ijab kabul di
Masjid Baiturrahim, kompleks DPR. Calon istrinya
adalah dr Diana Abbas Thalib.

Diana mengaku kenal dengan Hidayat baru tiga minggu
lalu. “Sebelumnya, hanya ketemu di surat kabar saja,”
ujar Diana saat ditemui Jawa Pos di rumahnya, Kemang
Selatan IV, Jakarta Selatan, Selasa lalu (15/4)
menjelang azan magrib.

Rumah Diana yang baru didiami satu tahun itu berlantai
dua. Saat itu sebuah sedan Mercedes-Benz hitam
terparkir di garasi. Di ruang tamu terpajang hiasan
keramik dan hiasan gelas-gelas.

Alumnus Fakultas Kedokteran UKI itu juga mengaku tidak
pernah mengenal istri Hidayat, Kastian Indrawati, yang
meninggal dunia Januari lalu akibat terserang kanker
tiroid.

Diana mengaku, proses perkenalan atau ta’aruf antara
dirinya dan Hidayat difasilitasi murobbi-nya (guru
mengaji) yang juga anggota Komisi VII DPR dari Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Yoyoh Yusroh. “Saya
diperkenalkan di rumah beliau di kawasan Pondok
Bambu,” kata wanita 42 tahun yang sore itu tampak
anggun dengan baju kurung biru dipadu jilbab merah
marun.

Nama Yoyoh sangat kondang di lingkungan internal
akhwat (kader wanita) PKS. Bisa dibilang wanita
kelahiran 14 November 1962 itu adalah “ibunya” seluruh
akhwat. Jika ada yang mempunyai masalah, Yoyoh, ibu 13
anak itu, menjadi rujukan untuk mencari solusi.

Jam terbangnya di dunia pengaderan PKS juga sangat
tinggi. Dia ikut merintis pendirian Partai Keadilan di
awal-awal 1998. Jumlah mutarobbi (murid binaannya)
tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Bisa
dikatakan jika seorang wanita muslimah sudah
direkomendasikan oleh Yoyoh, kader pria PKS pasti
tsiqoh (percaya) kualitasnya.

Hidayat memberikan teladan bagi kader-kadernya dengan
menjalani proses sejak mengirimkan biodata (daftar
riwayat hidup) melalui Yoyoh. Tahap itu merupakan
tahap pertama jika ada seorang ikhwan (kader pria) PKS
hendak meminang seorang akhwat. Biodata itu akan
dibawa oleh murobbi si wanita untuk dibaca dan
dipertimbangkan. Tak jarang, jika tidak sreg, biodata
tersebut dikembalikan.

Namun, jika cocok, giliran si wanita setor biodata.
Data diri plus foto itulah yang akan dipelajari calon
laki-laki. Jika setuju, selanjutnya dilakukan fase
taaruf. Yakni, bertemu dan saling menjajaki karakter
masing-masing. Itulah yang dilakukan Hidayat saat
mengajak anaknya, Hubaib, bersilaturahmi ke rumah
Diana untuk kali pertama. Saat itu, Hubaib langsung
akrab dengan Nizar Muhammad, anak Diana.

“Setelah semua terlihat tidak ada masalah dan
mendukung, jawabannya iya, kami langsung khitbah atau
lamaran,” jelas Diana.

Senin malam lalu (14/4), Hidayat dan rombongan secara
resmi mengajukan pinangan disaksikan Ketua Majelis
Syura DPP PKS (lembaga tertinggi di partai itu) KH
Hilmi Aminuddin. Setelah pinangan tersebut diterima,
kini kedua keluarga sedang mempersiapkan acara besar
dan syukuran walimatul ursy (resepsi pernikahan).
Selama menunggu waktu itu, Diana dan Hidayat tetap
membatasi aktivitas pertemuan.

Dalam adab Islam juga dikenal istilah kufu atau unsur
setara. Orang Jawa mengistilahkannya dengan bibit,
bobot, bebet. Di PKS, kualitas calon mempelai biasanya
juga setara. Terutama dari level jenjang aktivitas
kepartaiannya.

PKS menganut jenjang bertahap sejak level kader mula,
kader muda, kader madya, kader dewasa, kader ahli, dan
kader purna. Seorang ikhwan yang sudah memperoleh
level kader madya biasanya mengajukan kriteria calon
muslimah yang berada di level yang sama. Minimal dari
sisi hafalan Alquran-nya. Jika Hidayat sudah mendapat
predikat kader ahli, bisa dikatakan kualitas Diana
setara dengan muslimah berjenjang yang sama.

Benarkah? Ditanya seperti itu, Diana menjawab rendah
hati. “Waktu itu, saya berpikir simpel saja. Sebuah
kehormatan bisa bertemu ketua MPR. Jadi, ekspektasi
saya tidak terlalu tinggi supaya beban moralnya juga
tidak terlalu tinggi,” ungkapnya.

Yang jelas, Diana siap menjadi istri politikus.
Bahkan, bukan tidak mungkin calon ibu negara jika
Hidayat maju dalam pilpres 2009. “Pada saat memutuskan
beliau, tentu saya siap sebagai tugas istri pada
umumnya, yaitu menjadi ibu rumah tangga dan mendukung
setiap langkah suami,” tegasnya. (Jawa Pos, 17 April 2008)

baca juga: Hidayat Nurwahid Meminang Dokter asal Pasuruan

Tentang Nail

Seorang Guru Bahasa Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Islam, Politik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s