Makna “auliya” dalam surat al Maidah 51

oleh ust Ahmad Mudzoffar Jufri

Kata “auliya'” (أولياء) seperti yang ada di dalam QS. Al-Maidah: 51 dan lain-lain itu, merupakan bentuk jama’/plural dari kata “wali” (ولي) yang berasal dari kata wala’ (ولاء). Sementara kata wala’ (ولاء) itu berarti: cinta/kasih/sayang, loyalitas, kesetiaan, kedekatan, keberpihakan, dukungan, pertolongan, perlindungan dan semacamnya.
Sehingga menjadikan seseorang sebagai “wali” atau beberapa orang sebagai “auliya'”, berarti memberikan kepadanya atau kepada mereka: cinta/kasih/sayang, loyalitas, kesetiaan, kedekatan, keberpihakan, dukungan, pertolongan, perlindungan dan semacamnya.
Nah jika telah mengetahui makna-makna tersebut, maka akan sangat mudahlah bagi kita mengapa terjadi keragaman dalam mengartikan atau menerjemahkan kata “wali” atau “auliya'”. Sehingga kadang diartikan/diterjemahkan dengan: kekasih, teman dekat, sahabat setia, loyalis, pendukung, penolong, pelindung, dan lain-lain yang semakna dengan itu semua.
Jadi pengertian-pengertian dan terjemahan-terjemahan tersebut, meskipun tampak berbeda-beda, semuanya benar, tidak ada yang salah. Karena sifatnya memang perbedaan keragaman (اختلاف تنوع) yang justru saling melengkapi, bukan perbedaan pertentangan (اختلاف تضاد). Tinggal konteks yang akan menentukan pengertian/terjemahan mana yang lebih cocok dan relevan.
Selanjutnya, dengan kandungan pengertian-pengertian seperti itu, tentu sangat logis dan termaklumi sekali jika ikatan wala’ (loyalitas) umumnya hanya terjalin diantara orang-orang yang memiliki kesamaan saja khususnya dalam konteks ideologi, akidah dan agama. Sehingga orang-orang beriman (Islam) satu sama lain saling ber-wala’ diantara mereka saja. Dan orang-orang kafirpun demikian, saling memberikan wala’ hanya antar mereka pula.
“Dan orang-orang kafir itu, sebagian dari mereka saling ber-wala’ dengan sebagian yang lain saja. Jika kalian semua (orang-orang beriman) tidak melakukan hal yang sama (saling ber-wala’ satu sama lain), niscaya akan terjadi finah di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al-Anfaal: 73).

“Dan orang-orang beriman itu, baik laki-laki maupun perempuan, sebagian dari mereka harus saling memberikan wala’ kepada sebagian yang lain” (QS. At-Taubah: 71).

Bahkan sikap saling ber-wala’ antar sesama ummat Islam merupakan kewajiban syar’i yang sangat mendasar sekali di dalam ajaran Islam. Karena ia (wala’) memang merupakan konsekuensi langsung dari akidah dan keimanan. Makanya kita mengenal pasangan istilah wala’ dan bara’ (الولاء والبراء), yang menunjuk pada dua sikap saling berlawanan (loyalitas dan anti loyalitas) yang wajib dimiliki oleh setiap muslim/muslimah sebagai konsekuensi idelogis dari keimanannya.

Tentang Nail

Seorang Guru Bahasa Indonesia
Pos ini dipublikasikan di Islam, Politik, Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s